Posisi Strategis Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia
A. Letak, Luas, dan Batas Wilayah Indonesia
1. Letak Wilayah Indonesia
Indonesia memiliki posisi yang strategis karena terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Pasifik dan Hindia), serta terletak di daerah khatulistiwa.
Menurut Charles Ramage (1969) Kepulauan Indonesia merupakan bagian terbesar dari benua maritim, selain Filipina dan Papua Nugini. Wilayah kepulauan yang terletak di khatulistiwa dan di antara samudra pasifik dan samudra hindia
2. Luas Wilayah Indonesia
Letak astronomis Indonesia berada di antara 6°LU-11°LS dan 95°BT- 141°BT. Hal ini berarti bahwa Indonesia terletak di atas dan di bawah khatulistiwa. Konsekuensinya, wilayah Indonesia beriklim tropis dengan suhu udara rata-rata, curah hujan, dan kelembaban yang tinggi. Dengan ini, Indonesia juga memiliki tiga wilayah waktu, yakni waktu Indonesia bagian barat (WIB), waktu Indonesia bagian tengah (WITA), dan waktu Indonesia bagian timur (WIT).
Letak geografis Indonesia berada di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Letak geografis ini berperan penting daiam pergantian musim kemarau dan musim hujan di Indonesia. Letak geografis juga membuat Indonesia berada di posisi silang lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia.
Letak geologis Indonesia berada di antara pertemuan Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Benua Indo-Australia dan Lempeng Samudra Pasifik. Ketiga lempeng ini saling mendekat dan bertumbukan. Hal ini memicu terjadinya gempa bumi, serta bencana alam lainnya di Indonesia.
Indonesia juga berada di atas Paparan Sunda dan Paparan Sahul. Hal ini menyebabkan adanya kesamaan flora dan fauna di wilayah Indonesia bagian barat dengan Benua Asia serta di wilayah Indonesia bagian timur dengan Benua Australia.
Indonesia juga berada di barisan pegunungan, yakni barisan pegunungan Sirkum Mediterania di wilayah Indonesia barat dan deretan Pegunungan Sirkum Pasifik di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Barisan pegunungan Sirkum Pasifik disebut juga daerah Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) karena merupakan barisan pegunungan berapi.
Letak geologis Indonesia memberikan dampak positif, seperti potensi tambang mineral, logam, serta cekungan minyak dan gas bumi di Indonesia. Di sisi lain, letak geologis Indonesia juga mempunyai dampak negatif, yakni sering terjadi bencana alam.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Jumlah pulaunya sekitar 17.504 pulau. Luas daratan Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik tahun 2015, sebesar 1.913.578 km2. Luas perairan Indonesia, menurut Badan Informasi Geospasial tahun 2015, sebesar 6.315.222 km2 dengan panjang pantai 99.093 km. Menurut UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) tahun 1 982, Zona Ekonomi Eksklusif memiliki panjang 200 mil dari garis dasar pantai dan mencapai 2,9 juta km2.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berbatasan dengan sepuluh negara. Wilayah darat Indonesia berbatasan dengan Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste. Adapun wilayah laut Indonesia berbatasan dengan India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia, dan Timor Leste.
Batas daratan suatu negara dapat berwujud batas alamiah, batas buatan, dan batas geografis. Contoh batas alamiah adalah pegunungan, sungai, laut, dan hutan. Contoh batas buatan adalah pagar tembok, kawat berduri, dan pos penjagaan. Batas geografis adalah batas yang ditetapkan berdasarkan garis lintang dan garis bujur.
Batas laut Indonesia mengikuti Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang telah disepakati pada tahun 1982 di Montego Bay, Jamaika. Hasil konvensi ini kemudian disahkan dengan UU No. 1 7 Tahun 1985.
Ada tiga jenis bantas laut, yakni Batas Laut Teritorial, Batas Landas Kontinen, dan Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Batas laut teritorial ditarik dari sebuah garis dasar dengan jarak 12 mil laut. Laut di luar batas 12 mil disebut laut lepas atau laut bebas. Sampai pada batas laut teritorial ini, Indonesia mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya. Wilayah laut teritorial Indonesia diumumkan dalam Deklarasi Djuanda yang dinyatakan pada tanggal 13 Desember 1957.
Batas Landas Kontinen diukur dari garis dasar pantai ke arah luar dengan jarak paling jauh sepanjang 200 mil. Pada zona landas kontinen, pemerintah suatu negara mempunyai kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada dan berkewajiban untuk senantiasa menghormati dan tidak mengganggu jalur pelayaran internasional. Batas landas kontinen Indonesia diumumkan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 1 7 Februari 1969.
Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) menjadi batas wilayah perairan laut ekonomis suatu negara. Batas ini ditentukan dengan jarak 200 mil dari garis dasar pantai pulau terluar ke arah laut bebas. Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan pengumuman pada tanggal 21 Maret 1980 tentang ZEE. Di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), Indonesia mempunyai hak untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam. Indonesia juga berhak mengadakan penelitian sumber daya laut. Hal ini dilakukan dengan menghormati jalur lalu lintas internasional.
Deklarasi Djuanda menjadi landasan struktural dan legalitas bagi proses integrasi nasional Indonesia sebagai negara maritim. Tujuan Deklarasi Djuanda adalah sebagai berikut.
Mewujudkan bentuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat.
Menentukan batas-batas wilayah NKRI sesuai dengan asas negara kepulauan.
Mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.
Inti Deklarasi Djuanda adalah sebagai berikut.
Laut dan perairan di antara pulau-pulau menjadi pemersatu karena menghubungkan pulau yang satu dengan pulau yang lain.
Penarikan garis lurus pada titik terluar dari pulau terluar untuk menentukan wilayah perairan Indonesia.
Batas-batas wilayah Indonesia diukur sejauh 12 mil dari garis dasar pantai pulau terluar.
Menurut Deklarasi Djuanda, Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (archipelagic state principle). Dengan prinsip ini, wilayah laut dan darat Republik Indonesia merupakan suatu kesatuan wilayah yang utuh.
Menurut Chicago Convention on International Civil Aviation pada tahun 1944, setiap negara memiliki kedaulatan yang lengkap dan eksklusif terhadap ruang udara di atas wilayahnya.
3. Batas wilayah Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan dengan jumlah pulaunya yang mencapai 17.499 pulau dan luas wilayah perairan mencapai 5,8 juta km2, serta panjang garis pantai yang mencapai 81.900 km2. Dua pertiga dari wilayah Indonesia adalah laut, implikasinya, hanya ada tiga perbatasan darat dan sisanya adalah perbatasan laut. Perbatasan laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara diantaranya Malaysia, Singapura, Filipina, India, Thailand, Vietnam, Republik Palau, Australia, Timor Leste, dan Papua Nugini. Sedangkan untuk wilayah darat, Indonesia berbatasan langsung dengan tiga negara, yakni Malaysia, Papua Nugini, danTimor Leste dengan panjang garis perbatasan darat secara keseluruhan adalah 2914,1 km. Luasnya wilayah perbatasan laut dan darat Indonesia tentunya membutuhkan dukungan sistem manajemen perbatasan yang terorganisir dan profesional, baik itu ditingkat pusat maupun daerah. Akan tetapi minimnya infrastruktur di kawasan perbatasan telah menunjukkan bahwa pemerintah tidak memiliki sebuah sistem manajemen perbatasan yang baik.
Adapun batas-batas wilayah laut Indonesia dengan negara-negara tetangga meliputi:
(1) batas laut teritorial,
(2) batas zona tambahan,
(3) batas perairan ZEE, dan
(4) batas landas kontinen.
Laut teritorial adalah wilayah kedaulatan suatu negara pantai yang meliputi ruang udara dan laut serta tanah di bawahnya sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pangkal. Zona tambahan mencakup wilayah perairan laut sampai ke batas 12 mil laut di luar laut teritorial atau 24 mil laut diukur dari garis pangkal.
ZEE adalah suatu wilayah perairan laut di luar dan berdampingan dengan laut teritorial yang lebarnya tidak lebih dari 200 mil laut dari garis pangkal; yang mana suatu negara pantai (coastal state) memiliki hak atas kedaulatan untuk eksplorasi, konservasi, dan pemanfaatan sumber daya alam.
Landas kontinen suatu negara meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya yang menyambung dari laut teritorial negara pantai melalui kelanjutan alamiah dari wilayah daratana sampai ujung terluar tepian kontinen.
1. Perbatasan Laut
a. Indonesia - Singapura (1) batas laut teritorial,
(2) batas zona tambahan,
(3) batas perairan ZEE, dan
(4) batas landas kontinen.
Laut teritorial adalah wilayah kedaulatan suatu negara pantai yang meliputi ruang udara dan laut serta tanah di bawahnya sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pangkal. Zona tambahan mencakup wilayah perairan laut sampai ke batas 12 mil laut di luar laut teritorial atau 24 mil laut diukur dari garis pangkal.
ZEE adalah suatu wilayah perairan laut di luar dan berdampingan dengan laut teritorial yang lebarnya tidak lebih dari 200 mil laut dari garis pangkal; yang mana suatu negara pantai (coastal state) memiliki hak atas kedaulatan untuk eksplorasi, konservasi, dan pemanfaatan sumber daya alam.
Landas kontinen suatu negara meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya yang menyambung dari laut teritorial negara pantai melalui kelanjutan alamiah dari wilayah daratana sampai ujung terluar tepian kontinen.
1. Perbatasan Laut
b. Indonesia - Malaysia
c. Indonesia - Filipina
d. Indonesia - Australia
e. Indonesia - Papua Nugini
f. Indonesia - Vietnam
g. Indonesia - India
h. Indonesia - Thailand
i. Indoensia - Republik Palau
j. Indonesia - Timor Leste
2. Perbatasan Darat
a. Indonesia - Malaysia
b. Indonesia - Papua Nugini
c. Indonesia - Timor Leste
Bab 2
Flora dan Fauna di Indonesia dan dunia
Bioma merupakan sebuah ekosistem besar dan luas yang di dalamnya terdapat berbagai flora dan fauna yang di lindungi yang khas pada bioma tertentu. Di dalam sebuah bioma biasanya terdapat tiga pelaku utama yaitu produsen, konsumen dan decomposer (pengurai). Sebuah bioma biasanya terbentuk sesuai dengan letak geografis atau letak astronomis.
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.
Bioma terbagi menjadi 7 jenis bioma utama dimana masing-masing bioma memiliki karakteristik dan kekhasan tertentu. Berikut beberapa jenis bioma:
1. Bioma Stepa
Bioma atau juga sering disebut sebagai padang rumput merupakan bioma yang terdiri dari rumput sebagai flora utama yang ada di dalam bioma tersebut. Persebaran ini meliputi daerah yang tidak memiliki manfaat curah hujan yang tinggi di sepanjang iklim tropis dan subtropics. Persebarannya di dunia meliputi benua Australia (padag gibson), afrika utara (gurun sahara), asia (takla makan), brasilia (campos), amerika serikat (great basin), argentina, dan di Indonesia sendiri terdapat di daerah parangtritis yogyakarta, Sumbawa, nusa tenggara timur dan nusa tenggara barat.
Ciri-ciri bioma stepa:
Memilki curah hujan yang sangat sedikit kurang lebih hanya 25 mm per tahunnya.
Kelembapan udaranya sangat rendah karena kurangnya air
Penguapan atau proses evaporasi tumbuhan sangat cepat karena udara yang kering dengan tingkat penyerapanya lambat. Padang rumput yang ada di bioma ini juga biasanya merupakan rumput-rumput kering.
Keadaan tanahnya sangat kering selain karena kurangnya air juga dikarenakan suhu udara yang sangat panas mencapai 45° pada siang hari namun di malam hari sangat dingin hingga mencapai 0° celcius.
Karena keadaannya yang sangat kering dan panas ini tidak banyak tumbuhan dan hewan yang bisa bertahan. Hanya beberapa macam tumbuhan saja seperti rumput liar dan kaktus. Untuk hewan mungkin hewan herbivora dapat bertahan seperti kuda, sapi, kambing dan kerbau serta hewan berdarah panas lainnya seperti kalajengking dan jenis ular tertentu.
2. Bioma Tundra
Bioma tundra merupakan sebuah ekosistem dimana tumbuhan utamanya rumput dan tumbuhan kerdil. Letaknya terdapat pada daerah yang memiliki suhu udara dingin dengan jenis-jenis hujan yang berbeda dan kebalikan dari bioma tundra. Lokasinya biasanya ada di daerh dekat kutub yang sangat dingin dengan suhu udara sangat dingin seperti di daerah lingkar artik, Greenland, rusia utara, kanada, finlandia dan selandia baru.
Karena letaknya yang berbatasan dengan kutub suhu udaranya bisa mencapai kurang dari 0° bahkan tumbuhan pun bisa membeku. Tumbuhan yang paling banyak bisa hidup adalah lumut. Lumut pada saat musim dingin akan membeku namun tidak mati, kemudian setelah masuk musim panas dan es mencair lumut akan hidup kembali. Pada bioma ini bisa mengalami malam hari atau siang hari selama berbulan-bulan karena matahari tidak menyinari hingga daerah tundra.
Ciri-ciri bioma tundra:
Lokasinya hampir semuanya tertutup oleh salju dan es
Memiliki musim panas dan dingin yang sangat panjang
Usia tumbuhan yang dapat hidup sangat pendek hanya berkisar maksimal 4 bulan
Binatang yang dapat hidup merupakan tipikal hewan kutub seperti beruang kutub, kucing kutub, penguin dan lain-lain.
3. Bioma Taiga
Ekosistem bioma taiga merupakan hutan yang terdiri dari jenis-jenis hutan yang memiliki tumbuhan yang spesifik saja yang mendominasi misalnya hutan pinus, conifer, atau tumbuhan lainnya. Selain itu juga terdapat semak belukar dan rumput namun jumlahnya sangat sedikit. Hewan yang ada di dalam bioma tersebut antara lain adalah beruang, ajag, moose, serigala, beruang hitam, rubah dan burung yang sedang bermigrasi dari hutan gugur. Bioma ini terletak di daerah utara bumi seperti di rusia, kanada dan finlandia. Bioma taiga ini merupakan bioma yang paling luas dibandingkan dengan bioma-bioma lainnya.
Ciri-ciri bioma taiga:
Musim panas di bioma taiga sangat pendek jangka waktunya hanya berkisar 1 hingga 3 bulan saja selebihnya merupakan musim dingin.
Pada saat musim dingin air dalam tanah akan membeku hingga mencapai 2 meter tingginya
Jenis tumbuhan yang dapat hidup sedikit saja hanya 2 atau 3 jenis tumbuhan saja
Hewan yang dapat hidup merupakan hewan berdarah dingin
4. Bioma Gurun
Dibandingkan dengan bioma lainnya, bioma gurun disinyalir dianggap sebagai bioma yang paling susah untuk hidup makhluk hidup di dalamnya karena memiliki cuaca yang sangat ekstrim dimana pada saat siang hari udara akan terasa sangat panas dan pada saat malam hari akan menjadi sangat dingin. Bioma gurun juga memiliki fungsi gurun pasir serta kadar air dan kelembapan di bioma gurun sangat sedikit. Bioma gurun hanya menerima hujan satu kali dalam setahun sehingga tumbuhan dan hewan yang mampu bertahan hidup sangat sedikit saja. gurun terbesar di dunia adalah gurun sahara di afrika utara, sedangkan lainnya tersebar di jazirah arab seperti arab Saudi, peru, Australia, Mongolia, Pakistan dan Turkestan. Selain gurun yang sangat panas ada juga gurun di kutub utara yang tertutup salju dan es abadi. Gurun bioma juga memiliki beberapa fenomena yang menakjubkan seperti :
gurun terluas di benua asia
gurun pasir terbesar di dunia
gurun terluas di dunia
Tumbuhan yang bisa hidup di bioma gurun ini antara lain adalah lumut, kaktus dan beberapa jenis rumput berduri yang memiliki cadangan air banyak di dalam tubuhnya. Hewan yang bisa bertahan hidup misalnya onta yang memiliki cadangan air di punuknya atau hewan berdarah panas seperti kalajengking dan ular derik. Ciri-ciri bioma gurun:
Curah hujan sedikit hanya berkisar kurang lebih 25 mm per tahun
Evaporasi atau penguapan sangat besar
Kelembapan tanah sangat rendah
Tanah sangat kering karena berupa pasir yang tidak bisa menyerap air
Perbedaan suhu udara antara siang dan malam sangat berbeda.
5. Bioma Hutan Hujan Tropis
Bioma hutan hujan tropis terletak di daerah yang Indonesia yang memiliki iklim di Indonesia seperti iklim tropis yang dilalui oleh garis katulistiwa. Curah hujan di daerah ini sangat tinggi dan memiliki sinar matahari sepanjang tahunnya tanpa henti. Suhu udara di bioma hutan hujan tropis ini sangat bersahabat bagi flora dan fauna di dalamnya. Karena keramahan alamnya ini sehingga membuat jumlah flora dan fauanya sangat banyak dan heterogen. Diperkirakan jumlah flora yang hidup di bioma hutan hujan tropis mencapai angka 3000 jenis spesies. Rata-rata pohonnya memilki daun hijau karena pembentukan klorofil yang sempurna.
Bioma hutan hujan tropis juga memiliki fungsi jenis hutan seperti :
Kelembapan udaranya sangat tinggi karena sinar matahari banyak namun tidak bisa mencapai tanah karena lebatnya daun yang ada di bioma hutan hujan tropis ini. jenis anggrek, lumut, tumbuhan merambat sangat banyak ditemukan di bioma ini. persebaran bioma ini di Indonesia meliputi daerah sumatera, Kalimantan, papua, jawa dan Sulawesi. Untuk persebarannya di dunia meliputi brasil (hutan amazon), india, Malaysia, Thailand, karibia, dan amerika tengah (negara bagian florida).
Ciri-ciri hutan hujan tropis:
Memiliki curah hujan yang tinggi, setidaknya lebih dari 2000 mm per tahun , dengan jumlah air yang sangat melimpah ini perlu diwaspadai jika hutan sudah mulai gundul karena bisa terjadi banjir.
Pohonnya memiliki ketinggian mencapai 20 hingga 40 meter bahkan ada yang mencapai 60 m
Sinar matahari tersedia sepanjang tahun namun sinar tersebut tidak bisa masuk ke dalam tanah karena terhalang lebatnya tumbuhan.
Pohon memiliki daun yang lebat dan hijau sepanjang tahun
Memiliki iklim kecil pada lingkungan sekitar permukaan tanah
Terdapat berbagai macam tumbuhan dan hewan.
Pohon yang memiliki kayu awet dan kuat biasanya tumbuh pada bioma hutan hujan tropis ini.
6. Bioma Hutan Gugur
Bioma hutan gugur ini juga bisa disebut sebagai hutan hujan sedang. Pengaruh letak astronomis bioma hutan gugur ini terletak pada garis lintang 35 hingga 55° di bagian bumi bagia utara dan selatan. Persebarannya meliputi wilayah amerika serikat bagian timur, kepualuan inggris dan benua Australia.
Ciri-ciri hutan gugur:
Curah hujan terjadi secara merata berkisar pada 75 hingga 1000 mm per tahun
Pohon memiliki daun lebat dan hijau pada musim panas dan akan menggugurkan daunnya saat musim panas.
Jumlah tumbuhan dan hewan yang bisa bertahan hidup sedikit saja
Terdiri dari 4 musim yaitu dingin, gugur, panas dan semi, dengan musim panasnya hangat dan musim dinginnya tidak terlalu dingin.
7. Bioma Sabana
Bioma sabana merupakan ekosistem yang tidak banyak ditumbuhi tumbuhan hanya ditumbuhi padang rumput dan pohon-pohon kecil. Bioma sabana terbagi menjadi dua jenis yaitu sabana murni (yang masih memiliki tumbuhan asli) dan sabana campuran (sudah memiliki berbagai jenis tumbuhan yang tidak asli).
Ciri-ciri bioma sabana:
Terdapat di daerah katulistiwa
Curah hujan sedikit antara 100 hingga 150 mm saja per tahun
Curah hujan tidak terlalu banyak namun juga tidak terlalu sedikit
Memiliki drainase yang cuku baik
Air di dalam tanah cukup untuk kehidupan flora dan fauna
Suhu udara tidak terlalu ekstrim
Kelembapan udara agak kering
A. Pembagian Daerah di Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan yang membentang panjang dari Sabang hingga Merauke. Indonesia ini panjang sekali dan memiliki ribuan pulau baik yag besar maupun kecil (baca: pulau terbesar di dunia). Dengan daerah yang sepanjang ini maka berdasar pada letak garis bujur nya, antara Indonesia sebelah timur dengan Indonesia sebelah barat mempunyai selisih waktu yang berbeda- beda. Hal ini menjadikan dasar adanya pembagian wilayah di negara Indonesia. Seperti berpedoman pada zona waktu, perihal persebaran flora dan fauna pun Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah, yakni Indonesia Timur, Indonesia Tengah dan Indonesia Barat. Penjelasan dari masing- masing wilayah ini adalah sebagai berikut:
1. Indonesia Timur
Wilayah Indonesia yag pertama adalah Indonesia Timur. wilayah ini terdiri atas pulau Papua dan juga Maluku. Wilayah Indonesia timur menjadi wilayah yang sempit daripada wilayah lainnya.
2. Indonesia Tengah
Indonesia bagian tengah merupakan wilayah Indonesia yang diapit oleh wilayah Indonesia bagian barat dan juga Indonesia bagian Timur. wilayah Indonesia bagian tengah bisa dikatakan sebagai wilayah yang paling sempit diantara ketiganya. Beberapa wilayah yang termasuk dalam wilayah Indonesia tengah antara lain Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Pulau Timor, dan juga wilayah Maluku.
3. Indonesia Barat
Indonesia timur merupakan bagian dari negara Indonesia yang letaknya ada di sebelah barat, meliputi wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan dan juga Bali. Wilayah Indonesia bagian barat ini menjadi wilayah yang besar.
Itulah pembagian wilayah yang ada di Indonesia, yang meliputi wilayah timur, barat dan juga tengah. Diantara masing- masing wilayah itu terdapat garis yang membatasi ketiga wilayah. Garis- garis tersebut merupakan garis khayal yang bisa kita lihat di peta persebaran flora dan fauna. Garis tersebut adalah Garis Weber dan Garis Wallace.
Garis Wallace merupakan garis yang membatasi antara jenis flora dan fauna Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian tengah. Garis ini ditentukan berdasarkan hipotesis dari Alfred Russel Wallace. Sementara Garis Weber merupakan garis yang membatasi antara jenis flora dan fauna Indonesia bagian tengah dan bagian timur. Garis ini ditentukan berdasarkan hipotesis dari Max Wilhelm Carl Weber.
Garis Wallace dan Weber
B. Persebaran Flora di Indonesia
Flora di Indonesia mempunyai beraneka ragam berdasarkan tempat atau wilayahnya. Kita telah mengetahui bahwa kaitannya dalam persebaran flora dan fauna, Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah yakni Indonesia Timur, Indonesia Tengah dan Indonesia Barat. Masing- masing wilayah ini mempunyai ciri- ciri (ciri khas) dan juga jenis flora yang berbeda- beda. Informasi mengenai flora di masing- masing wilayah tersebut akan kita bahas sebagai berikut.
1. Flora di Indonesia bagian Barat
Jenis flora maupun fauna di Indonesia bagian barat ini disebut dengan flora dan fauna tipe Asiatis. Hal ini tentu saja karena Indonesia bagian barat ini berada dekat dengan Benua Asia (baca: danau terluas di Benua Asia), sehingga disebut dengan Asiatis. Tidak hanya wilayahnya saja yang dekat dengan benua Asia, namun karena tipe flora dan fauna di Indonesia bagian barat ini dipengaruhi atau mirup dengan flora dan fauna di benua Asia pada umumnya. Flora yang terdapat di Indoenesia bagian barat ini didominasi oleh vegetasi hutan hujan tropis yang lebat. Hal ini dikarenakan karena wilayah Indonesia bagian barat mempunyai tingkat curah hujan (baca: proses terjadinya hujan) dan juga kelembaban yang tinggi. jenis flora di kawasan ini memiliki kesamaan ciri dengan flora yang ada di benua Asia.
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai flora yang berada di wilayah Indoensia bagian barat, kita akan melihat dari ciri- ciri yang dimiliki oleh flora tersebut. Beberapa ciri dari flora tipe Asiatis ini antara lain sebagai berikut:
Mempunyai jenis- jenis kayu yang berharga. Kita mengetahui bahwa di dunia ini ada tumbuhan yang mempunyai kayu sangat berharga. Kayu- kayu dari tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kepentingan manusia, mulai dari memasak atau sebagai bahan penyedap masakan hingga sebagai obat. Nah, flora tipe Asiatis ini merupakan flora yang mempunyai banyak jenis kayu- kayuan yang sifatnya penting. Namun flora tipe Asiatis ini mempunyai kayu yang ukurannya besar dan biasa digunakan sebagai konstruksi bangunan dan semacamnya. Beberapa tanaman kayu yang diambil manfaatnya dan termasuk dalam flora tipe Asiatia antara lain adalah Pohon Jati, Pohon Meranti, Pohon Mahoni, Pohon Kruing dan lain sebagainya.
Selalu hijau sepanjang tahun. Selain mempunyai berbagai jenis pohon dengan sifat kayu yang penting, flora tipe Asiatis juga memiliki ciri yakni selalu berwarna hijau sepanjang tahun. Di atas sudah disebutkan bahwa salah satu flora di wilayah Asia atau tipe Asiatis ini mempunyai hutan hujan tropis yang lebat. Hutan hujan tropis (baca: cara melestarikan hutan) selalu terlihat hijau sepanjang tahun meskipun berada di musim kemarau (baca: pembagian musim di Indonesia). Dengan demikian, flora Asiatis atau yang berada di Indonesia Timur ini tampak berwarna hijau sepanjang tahun, meskipun sedang berada di tengah- tengah musim kemarau.
Jenis pohon yang tumbuh bersifat heterogen. Masih berkaitan dengan jenis hutan hujan tropis yang menjadi icon flora Indonesianbahwa hutan hujan tropis merupakan jenis hutan berdasarkan iklimnya yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman yang berada di dalam satu kawasan hutan. Tanaman- tanaman inipun hidup saling berdampingan antara satu dengan lainnya. Beberapa jenis tanaman yang hidup di wilayah Indonesia bagian barat antara lain: Pohon Cempaka, Pohon Jati, Pohon Meranti, Pohon Kruing, Pohon Karet, Pohon Mahoni, Pohon Kamper, pohon Beringin, Pakis, dan lain sebagainya.
Terdapat spesies flora endemik. Di wilayah Indonesia bagian barat juga hidup sebuah spesies flora endemik, yakni bunga Rafflesia Arnoldi yang berada di wilayah Sumatera. Bunga ini merupakan bunga langka dan hanya terdapat di beberapa tempat saja, bahkan hanya terdapat di wilayah indonesia bagian barat saja.
Itulah beberapa ciri dari flora tipe Asiatis yang hidup atau terdapat di wilayah Indonesia bagian barat. Tipe- tipe yang telah disbeutkan di atas telah mewakili juga tipe flora di wilayah benua Asia pada umumnya.
Persebaran Fauna di Indonesia
Wilayah persebaran fauna pertama kali diperkenalkan oleh Sclater (1858) dan kemudian dikembangkan oleh Huxley (1868) dan Wallace (1876). Ada beberapa faktor alam yang mempengaruhi persebaran fauna di dunia yang bersifat menghambat, yaitu faktor-faktor fisik yang berhubungan dengan keadaan di bumi, misalnya :
- perairan (sungai, danau, laut)
- daratan (gunung, lembah, jurang, padang pasir dll)
- iklim (suhu, tekanan udara, kelembaban dll)
Alfred Russel Wallace mengelompokkan persebaran fauna di dunia menjadi 6 wilayah persebaran fauna, yaitu :
1. Paleatric
Wilayah persebaran fauna Paleartik meliputi hampir seluruh daratan Eurasia dan beberapa daerah lain seperti kawasan pegunungan Himalaya, Afganistan, Afrika, Inggris dan Jepang. Keadaan lingkungan di wilayah ini cukup bervariasi, antara lain memiliki perbedaan suhu yang tinggi dan curah hujan yang berbeda-beda.
Beberapa jenis fauna yang hidup jenis fauna yang hidup di wilayah Paleartik antara lain :
- Fauna khas seperti tikus, bison, landak dan menjangan kutub.
- Fauna yang terbatas penyebarannya seperti unta, rusa kutub dan beruang kutub.
- Beberapa jenis reptil yang berhubungan dengan fauna Ethiopian dan Oriental
- Fauna endemik yang hanya terdapat di daerah Cina, yaitu beruang Panda
2. Nearctic
Wilayah fauna Neartik terdapat dibelahan bumi utara tepatnya di wilayah benua Amerika bagian utara dan seluruh wilayah Greenland. Pada wilayah persebaran ini terdapat beberapa bioma yang mendominasi kawasannya, antara lain :
Amerika Utara bagian timur banyak ditumbuhi oleh vegetasi hutan gugur.
Amerika Utara bagian tengah terdiri atas bioma padang rumput
Amerika Utara bagian utara didominasi oleh bioma taiga yang memiliki hutan konifer yang sangat luas.
Peta Wilayah Sebaran Nearctic
Lingkungan fisik wilayah Greenland tertutup oleh salju dengan ketebalan yang sulit ditentukan. Beberapa jenis fauna khas di wilayah Neartik antara lain: Antelop bertanduk cabang tiga, prairie dog sejenis tupai dari Amerika Utara, kolkum, burung biru, salamander, bison, karibou, mockingbird, dan musk ox.
3. Ethiopian
Wilayah fauna Ethiopian meliputi seluruh daratan benua Afrika, Madagaskar dan daratan Arab bagian selatan. Keadaan lingkungan wilayah Ethiopian relatif seragam. Di bagian utara wilayah Ethiopian terdapat Gurun Sahara yang merupakan padang pasir terluas di dunia. Gurun ini menjadi barier atau pembatas antara wilayah Ethipian dengan wilayah Paleartik.
Wilayah Ethiopian memiliki kurang lebih 160 vertebrata darat, dan memiliki beberapa fauna khas.
Fauna khas di wilayah daratan Afrika misalnya gajah, singa, cheetah, hyena, jerapah, zebra, unta dan badak afrika.
Fauna yang mirip dengan daerah Oriental adalah jenis kucing dan anjing, lemur, baboon, gorila dan simpanse.
Fauna khas pulau Madagaskar misalnya kudanil kecil (Pygmyhippopotamus) dan beberapa burung endemik seperti burung gajah besar.
4. Oriental
Wilayah fauna Oriental meliputi Benua Asia beserta pulau-pulau disekitarnya meliputi Srilangka, Filipina dan wilayah fauna Indonesia bagian barat dan tengah yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi.
Kondisi lingkungan fisik wilayah Oriental cukup bervariasi, sebagian besar beriklim tropis sehingga banyak terdapat hutan tropis yang kaya akan flora dan fauna. Beberapa fauna khas yang hidup di wilayah Oriental antara lain :
- Harimau, gajah, gibbon, orang utan, bekantan, monyet, badak bercula satu, menjangan, antelop, tapir, babi rusa.
- Terdapat beberapa fauna endemik yang hanya hidup di daerah tertentu, misalnya anoa di Sulawesi dan komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
5. Australis
Wilayah persebaran fauna Australis sebagian besar kondisi lingkungannya tropis dan sebagian lagi beriklim sedang. Kondisi lingkungan di wilayah Australia yang cukup mencolok disebabkan oleh letaknya yang terpisah jauh dari benua lainnya.
Wilayah persebaran fauan Australis meliputi :
Benua Australia
Selandia Baru
Papua
Maluku dan pulau-pulau kecil di sekitarnya
Kepulauan-kepulauan di samudera pasifik di sebeleh selatan garis katulistiwa
Beberapa hewan khas wilayah fauna Australia antara lain :
Kiwi - Koala - Oposum Layang (pemanjat berkantung) - Kangguru Pohon - Platypus
Burung Penghisap Madu - Burung Emu - Kakaktua - Kasuari
Nokdiak (landak Irian) - Wallaby - Cendrawasih - Kangguru
Selain beberapa fauna di atas juga terdapat beberapa fauna endemik yang hanya terdapat di satu wilayah, yaitu (sphenodon punctatus) sejenis amphibi purba yang hanya terdapat di Selandia Baru dan Tazmanian Devil yang terdapat di pulau Tasmania.
Tazmanian Devil
Tuatara (Sphenodon Punctatus)
6. Neotropik
Wilayah fauna Neotropik tersebar dari Meksiko bagian selatan sampai Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Kondisi wilayah Neotropik sebagian besar beriklim tropis dan di Amerika Sealatan lebih banyak yang beriklim sedang.
Beberapa jenis fauna khas yang hidup di wilayah fauna ini antara lain : Ilama Kukang, armadillo, alpaka, kelelawar penghisap darah, siamang, trenggiling, menjangan, sejenis babi, kuda, kera dan tapir (berbeda dengan tapir Asia terutama pada punggungnya.
BAB 3
Jenis-Jenis Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbarui dan Persebarannya di Indonesia
Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui setelah digunakan tidak dapat terbentuk kembali. Pembentukan sumber daya alam yang baru memerlukan waktu sampai ratusan tahun, ribuan tahun, bahkan jutaan tahun. Jenis-jenis daya alam yang tidak dapat diperbarui yang akan dibahas adalah dua jenis, yaitu sumber daya energi yang meliputi minyak bumi, gas bumi, batu bara, panas bumi dan sumber daya mineral yang meliputi mineral logam, yaitu bijih besi, timah putih, bauksit, nikel, emas, perak, tembaga, mangan, serta mineral bukan logam, yaitu intan, batu kapur (gamping), batu pualam (marmer), belerang, fosfat, aspal alam, pasir dan batu (sirtu).
A. Sumber Daya Energi
1. Minyak Bumi
a) Proses Terjadinya
Minyak bumi terjadi sejak zaman primer, sekunder, dan tersier. Minyak bumi berasal dari mikroplankton yang terdapat di rawa-rawa, danau-danau, teluk-teluk, maupun laut-laut dangkal. Setelah mati mikroplankton kemudian mengendap di dasar laut bercampur dengan lumpur disebut lumpur sapropelium.
b) Tempat Endapan Minyak Bumi
Ada empat tempat terjadinya akumulasi (terkumpulnya) minyak, yaitu:
pada punggung sebuah lipatan (antiklin);
pada sebuah lapisan perangkap (stratigraphic trap);
pada lapisan bawah sebuah patahan (fault);
pada bagian atas sebuah kubah garam (salt dome).
2. Gas Alam (Gas Bumi)
Gas alam merupakan sumber energi selain minyak bumi dan batu bara. Gas ini mudah terbakar karena terdiri dari methana. Ada dua macam gas alam, yaitu sebagai berikut.
Gas yang dihasilkan atau didapatkan pada waktu ditambang minyak bumi. Gas tersebut berada di atas lapisan minyak bumi di dalam tanah bersama-sama air garam. Setelah dicairkan gas tersebut disebut LPG (Liquefied Petroleum Gas atau gas cair minyak bumi).
Gas yang ditambang dari lapangan atau sumber yang menghasilkan gas semata. Gas tersebut setelah dicairkan disebut LNG (Liquefied Natural Gas atau gas alam cair).
Manfaat gas-gas tersebut adalah untuk bahan baku pabrik pupuk, bahan bakar di rumah tangga, maupun di pabrik.
3. Batu Bara
a) Terjadinya Batu Bara
Batu bara merupakan sumber energi atau bahan bakar. Batu bara terjadi dari tumbuh-tumbuhan prasejarah (masa Karbon) yang tertimbun dan sekarang berada pada lapisan batuan sedimen yang lebih dalam.
b) Jenis Batu Bara
Batu bara dapat dibedakan sebagai berikut.
(1) Berdasarkan kandungan gasnya, dibedakan:
batu bara kurus, yaitu batu bara yang tidak mengandung gas;
batu bara gemuk, yaitu batu bara yang banyak mengandung gas.
(2) Berdasarkan bahan asalnya, dibedakan:
batu bara saprofil, yaitu batu bara yang berasal dari tumbuh-tumbuhan bercampur dengan binatang kecil-kecil;
batu bara humus, yaitu batu bara yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
(3) Berdasarkan kadar arangnya, dibedakan:
turf (veen) atau gambut, yaitu arang yang masih terlihat bahan asalnya dari tumbuh-tumbuhan (di Negeri Belanda, veen ditambang sebagai bahan bakar penghangat ruangan dan setelah ditambang disebut laagveen);
batu bara muda (bruinkool), yaitu batu bara yang berwarna hitam mengkilat, daya bakarnya tinggi, digunakan untuk penggerak lokomotif, tetapi kualitasnya kurang baik;
batu bara (steenkool), yaitu batu bara yang berwarna hitam mengkilat, daya bakarnya tinggi, digunakan untuk penggerak lokomotif, dan kualitasnya tinggi;
antrasit, yaitu batu bara yang berwarna hitam mengkilat lebih keras dari steenkool, daya bakarnya lebih tinggi, digunakan pada tanur peleburan bijih besi;
cokes, yaitu batu bara yang daya bakarnya lebih tinggi dari antrasit;
gravit, yaitu batu bara yang berjuta-juta tahun tertimbun di dalam tanah sehingga menjadi keras, digunakan untuk isi pensil;
intan terjadi karena karbonasi (pengarangan) yang lama sehingga gravit menjadi lebih keras (intan), digunakan sebagai pemotong kaca dan batu pualam (marmer).
c) Daerah Penghasil Batubara Di Indonesia
Tambang Batubara Ombilin. Daerah penghasil batubara yang pertama adalah Ombilin, yang terletak di Sawahlunto, Sumatra Selatan.
Bukit Asam. Daerah ini adalah daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia, yang terletak di Tanjungenim, Sumatra Selatan.
Kota Baru (Pulau Laut). Kota Baru adalah daerah di indonesia penghasil batubara yang terletak di Pulau Laut, Kalimantan Selatan.
Sungai Berau. Sungai Berau adalah salah satu daerah di indonesia yang menjadi penghasil batubara, Sungai Berau terletak di Samarinda, Kalimantan timur.
Papua. Hampir berbagai bahan tambang dapat di temukan di Papua, salah satunya adalah Batubara.
Selain ini, masih banyak lagi daerah penghasil batubara di indonesia, diantaranya Bengkulu, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.
4. Panas Bumi (Geothermal)
Panas bumi (geothermal) adalah sumber daya energi atau tenaga berupa semburan uap di permukaan bumi yang berasal dari panas di dalam bumi. Semburan uap tersebut dihubungkan dengan turbin pembangkit listrik dan dinamo sehingga menimbulkan listrik. Tempatnya disebut PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas). Sumber energi panas bumi (geothermal) yang sudah menghasilkan listrik adalah:
Gunung Sibayak (Sumatera Utara),
Sarulla (Sumatera Barat),
Kamojang (Jawa Barat, PLTP pertama di Indonesia sejak 1988),
Gunung Salak dan Gunung Darajat (Jawa Barat),
Dieng (Jawa Tengah),
Lahendong (Sulawesi Utara)
B. Sumber Daya Mineral
Sumber daya mineral di Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu mineral logam dan mineral bukan logam.
* Mineral Logam
1. Bijih Besi
Bijih besi adalah konsentrat pasir besi dari bijih silikat di batuan ultrabasa pada onggokan magma beku yang telah mengalami proses laterisasi (penghancuran). Di Indonesia penambangannya dengan cara tambang terbuka, yaitu pasir besi tersebut dikeruk di permukaan bumi, seperti pasir besi yang ditambang di daerah:
Pesisir selatan Cilacap (Jawa Tengah);
Cilegon (Jawa Barat);
Kotawaringin (Kalimantan Tengah);
Pegunungan Verbeek dan Longkana (Sulawesi Tengah);
Pulau Obi (Maluku).
2. Nikel
Sama halnya dengan bijih besi, nikel pun terdapat pada bijih silikat di batuan ultrabasa pada onggokan magma beku yang telah mengalami laterisasi (penghancuran). Warnanya putih mengkilat, tahan karat, tahan suhu tinggi, dan penghantar arus listrik yang baik.
Penambangan nikel terdapat di:
Pomala (Sulawesi Selatan), yaitu penambangan yang pertama di Indonesia tahun 1938 (berproduksi);
Soroako (Sulawesi Selatan);
Pulau Gel, Pulau Pakal, Pulau Obi, Tanjung Buli (Provinsi Maluku Utara);
Pulau Gag, Pegunungan Cyclops (Provinsi Papua atau Irian Jaya).
3. Timah Putih
Endapan bijih timah putih di Indonesia, terutama terdapat di alur-alur sungai purba dasar laut Dangkalan Sunda. Seperti, alur sungai purba di dasar laut di lepas pantai Pulau Bangka, Pulau Belitung, Pulau Singkep, dan Kepulauan Lingga.
Adapun penambangannya terdapat di:
Pulau Bangka dan Belitung (Provinsi Babel);
Pulau Singkep, Pulau Lingga, Pulau Kundur, Pulau Karimun, dan lapisan bawah sebuah Patahan Bangkinang (di tepi Sungai Kampar Kanan) di Provinsi Riau. Pabrik peleburannya terdapat di Muntok (Pulau Bangka).
4. Bijih Bauksit
Bauksit, pertama kali ditemukan di Perancis, di sebuah desa bernama Les Boux sehingga mineral tersebut disebut bauksit. Jenis mineral logam ini merupakan bijih bahan aluminium yang terkandung di dalam tubuh tanah sebanyak 8% dari seluruh unsur kimia yang dikandung tanah. Jika unsur-unsur kimia lainnya berkurang atau hilang maka tubuh tanah didominasi oleh unsur aluminium (Al). Pada tubuh tanah semacam inilah ditambang bauksit.
Pusat pertambangan bauksit terbesar di Indonesia ialah Pulau Bintan. Penambangan bauksit terdapat di:
Pulau Bintan, Pulau Pari, Pulau Galang Besar (Kepulauan Riau);
Singkawang (Kalimantan Barat).
5. Emas dan Perak
Emas dan perak kebanyakan terdapat bersamaan dan berasosiasi dengan logam tembaga, platina, besi, dan seng. Emas dan perak terdapat di dalam batuan andesit tua sebagai batuan induknya.
Pertambangan emas terdapat di:
Nanggroe Aceh Darussalam;
Rejang Lebong (Bengkulu);
Cikotok (Jawa Barat);
Sambas (Kalimantan Barat);
Kalimantan Tengah;
Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara);
Tembaga Pura atau Pegunungan Jaya Pura (Irian Jaya atau Papua);
Logos (Riau);
Batu Hijau di Sumbawa (NTB).
6. Tembaga
Tembaga terdapat bersamaan dan berasosiasi dengan emas dan perak. Kegunaan tembaga adalah untuk pembuatan kabel. Tembaga dicampur kuningan akan menjadi perunggu.
Pertambangan tembaga terdapat di:
Pulau Haruku, Pulau Ambon, Nusa Laut, dan Saparua (Maluku);
Tembagapura di Pegunungan Jaya Wijaya (Irian Jaya atau Papua) menghasilkan emas dan perak, ditambang pula oleh Freeport Minerals Company (kontrak kerja Indonesia dengan Amerika);
Tirtamaya (Jawa Tengah);
Sangkarapi (Sulawesi Selatan);
Batu Hijau di Sumbawa (NTB).
7. Bijih Mangan
Jenis logam ini sekitar 80% digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan baja dan perunggu.
Pertambangan mangan terdapat di:
Yogyakarta (DIY) di Kliripan;
Karangnunggal di Tasikmalaya (Jawa Barat).
* Mineral Bukan Logam
Mineral bukan logam di Indonesia cukup banyak, yaitu aspal alam, belerang, batu kapur (gamping), batu pualam, fosfat, intan, dan sirtu (pasir batu).
1. Aspal Alam
Aspal alam terbentuk dari minyak bumi yang kadar aspalnya tinggi, terjebak, dan sudah padat mengering. Ada juga aspal buatan yang dibuat dari residu (sisa pengolahan minyak bumi seperti lumpur hitam kelam). Aspal ini digunakan untuk pengeras jalan.
Pertambangannya terdapat di:
daerah Butas di Pulau Buton (Sulawesi Tenggara);
Pegunungan Kromong dan dekat Palembang (Sumatera Selatan).
2. Belerang
Endapan gas belerang setelah sublimasi biasanya membatu. Banyak terdapat di daerah gunung api yang masih aktif. Belerang berguna dalam industri kimia, seperti industri pupuk, obat-obatan, ban, kertas, cat, mesin, rayon, tekstil, dan korek api.
Endapan belerang hampir tersebar luas di Indonesia, di antaranya:
Gunung Walirang dan Pegunungan Ijen (Jawa Timur);
Gunung Dieng (Jawa Tengah);
Gunung Patuha dan Gunung Tangkuban Perahu (Jawa Barat).
3. Batu Kapur (Gamping)
Menurut sejarah geologi, batu kapur berasal dari terumbu karang, yaitu rumah binatang karang yang terbentuk di laut dangkal (bersuhu 20° C, kedalaman 0 – 200 m). Akibat tenaga dari dalam bumi (endogen) maka terangkatlah dasar laut (proses epirogenesa atau tektonik).
Cara pengolahan batu kapur adalah setelah ditambang lalu dibakar, kemudian digunakan untuk bahan bangunan, bahan campuran pembuatan semen, porselen, keramik, teraso, marmer tiruan, dan industri gelas.Tambang gips terdapat di:
Cirebon (Jawa Barat);
Rembang (Jawa Tengah);
Kalianget (Jawa Timur).
Kapur juga digunakan sebagai bahan baku industri semen, yaitu campuran batu kapur, gipsum, dan tanah liat. Pabrik semen, di antaranya terdapat di:
Indarung (Sumatera Barat);
Cibinong (Jawa Barat);
Palimanan (Cirebon, Jawa Barat);
Cilacap (Jawa Tengah);
Gresik (Jawa Timur).
4. Marmer (Batu Pualam)
Marmer (batu pualam) terjadi karena batu kapur mengalami proses metamorfosa, yaitu batu kapur yang larut oleh air hujan masuk ke dalam tanah mendapat pemanasan dari magma sehingga berubah menjadi sangat padat dan keras.
Kegunaan marmer adalah untuk lantai, bagian atas meja, pelapis dinding di kantor, atau rumah mewah. Penambangan batu pualam (marmer) terdapat di:
Lampung (Provinsi Lampung);
Banjarnegara (Jawa Tengah);
Trenggalek dan Tulungagung (Jawa Timur);
Citatah (Jawa Barat).
5. Fosfat Mineral
fosfat berasal dari kotoran burung dan kelelawar. Kelelawar kebanyakan berdiam di gua karst (kapur) maka endapan kotorannya banyak ditemukan di gua-gua karst maupun di batu-batu gamping. Kegunaan fosfat untuk pembuatan pupuk fosfat. Daerah yang telah diambil hasil fosfatnya adalah:
Gunung Kromong dan Bogor bagian Selatan (Jawa Barat);
Karangbolong, Ajibarang, dan Kayen (Jawa Tengah);
Bojonegoro (Jawa Timur).
6. Intan
Intan ada yang menyebut berlian atau intan berlian. Intan kegunaannya ada dua macam.
Proses terjadinya intan adalah sebagai berikut. Tumbuh-tumbuhan jenis pakis (galamariacea) tertimbun di dalam tanah jutaan tahun sehingga berubah menjadi veen, lalu bruinkool, steenkool, antrasit, cokes, gravit akhirnya menjadi hitam (keras sekali).
Tempat ditemukannya intan adalah di:
Sungai Kampar, Sungai Siabu, dan Bangkinang (Sumatera);
Muara Mengkiang dan Ngabang (Kalimantan Barat);
Sei Pinang, Murungraya, Purukcau, dan Kampung Sungai Gula (Kalimantan Tengah);
Simpang Empat dan Martapura (Kalimantan Selatan);
Longiram (Kalimantan Timur).
7. Pasir dan Batu (Sirtu)
Sirtu berasal dari batuan vulkanik, yaitu berupa batu lapis, batu guling di sungai, batu gali, breksi, pasir, dan tras. Sirtu digunakan untuk bahan bangunan dan pengeras jalan.
8. Yodium
Yodium adalah bahan kimia berbentuk keping berwarna hitam agak kelabu, mengkilat seperti logam. Yodium digunakan untuk bahan obat-obatan antiseptik yang dilarutkan dalam alkohol dan untuk campuran garam dapur.
9. Kaolin
Kaolin adalah mineral mengkilat (sejenis tanah liat) berwarna putih dan merupakan hasil pelapukan.Kegunaan kaolin sebagai bahan baku pembuatan cat, keramik, bahan pewarna, dan bahan campuran kosmetik.
10. Asbes
Asbes adalah mineral hasil tambang berbentuk serat. Asbes tahan terhadap asam dan panas. Setelah diolah, asbes digunakan untuk atap rumah dan eternit.
11. Mika
Mika merupakan barang tambang yang digunakan untuk melapisi barang-barang agar tampak lebih indah. Tambang mika terdapat di Donggala dan Pulau Peleng (Sulawesi Tengah).
Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui setelah digunakan tidak dapat terbentuk kembali. Pembentukan sumber daya alam yang baru memerlukan waktu sampai ratusan tahun, ribuan tahun, bahkan jutaan tahun. Jenis-jenis daya alam yang tidak dapat diperbarui yang akan dibahas adalah dua jenis, yaitu sumber daya energi yang meliputi minyak bumi, gas bumi, batu bara, panas bumi dan sumber daya mineral yang meliputi mineral logam, yaitu bijih besi, timah putih, bauksit, nikel, emas, perak, tembaga, mangan, serta mineral bukan logam, yaitu intan, batu kapur (gamping), batu pualam (marmer), belerang, fosfat, aspal alam, pasir dan batu (sirtu).
A. Sumber Daya Energi
1. Minyak Bumi
a) Proses Terjadinya
Minyak bumi terjadi sejak zaman primer, sekunder, dan tersier. Minyak bumi berasal dari mikroplankton yang terdapat di rawa-rawa, danau-danau, teluk-teluk, maupun laut-laut dangkal. Setelah mati mikroplankton kemudian mengendap di dasar laut bercampur dengan lumpur disebut lumpur sapropelium.
b) Tempat Endapan Minyak Bumi
Ada empat tempat terjadinya akumulasi (terkumpulnya) minyak, yaitu:
pada punggung sebuah lipatan (antiklin);
pada sebuah lapisan perangkap (stratigraphic trap);
pada lapisan bawah sebuah patahan (fault);
pada bagian atas sebuah kubah garam (salt dome).
2. Gas Alam (Gas Bumi)
Gas alam merupakan sumber energi selain minyak bumi dan batu bara. Gas ini mudah terbakar karena terdiri dari methana. Ada dua macam gas alam, yaitu sebagai berikut.
Gas yang dihasilkan atau didapatkan pada waktu ditambang minyak bumi. Gas tersebut berada di atas lapisan minyak bumi di dalam tanah bersama-sama air garam. Setelah dicairkan gas tersebut disebut LPG (Liquefied Petroleum Gas atau gas cair minyak bumi).
Gas yang ditambang dari lapangan atau sumber yang menghasilkan gas semata. Gas tersebut setelah dicairkan disebut LNG (Liquefied Natural Gas atau gas alam cair).
Manfaat gas-gas tersebut adalah untuk bahan baku pabrik pupuk, bahan bakar di rumah tangga, maupun di pabrik.
3. Batu Bara
a) Terjadinya Batu Bara
Batu bara merupakan sumber energi atau bahan bakar. Batu bara terjadi dari tumbuh-tumbuhan prasejarah (masa Karbon) yang tertimbun dan sekarang berada pada lapisan batuan sedimen yang lebih dalam.
b) Jenis Batu Bara
Batu bara dapat dibedakan sebagai berikut.
(1) Berdasarkan kandungan gasnya, dibedakan:
batu bara kurus, yaitu batu bara yang tidak mengandung gas;
batu bara gemuk, yaitu batu bara yang banyak mengandung gas.
(2) Berdasarkan bahan asalnya, dibedakan:
batu bara saprofil, yaitu batu bara yang berasal dari tumbuh-tumbuhan bercampur dengan binatang kecil-kecil;
batu bara humus, yaitu batu bara yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
(3) Berdasarkan kadar arangnya, dibedakan:
turf (veen) atau gambut, yaitu arang yang masih terlihat bahan asalnya dari tumbuh-tumbuhan (di Negeri Belanda, veen ditambang sebagai bahan bakar penghangat ruangan dan setelah ditambang disebut laagveen);
batu bara muda (bruinkool), yaitu batu bara yang berwarna hitam mengkilat, daya bakarnya tinggi, digunakan untuk penggerak lokomotif, tetapi kualitasnya kurang baik;
batu bara (steenkool), yaitu batu bara yang berwarna hitam mengkilat, daya bakarnya tinggi, digunakan untuk penggerak lokomotif, dan kualitasnya tinggi;
antrasit, yaitu batu bara yang berwarna hitam mengkilat lebih keras dari steenkool, daya bakarnya lebih tinggi, digunakan pada tanur peleburan bijih besi;
cokes, yaitu batu bara yang daya bakarnya lebih tinggi dari antrasit;
gravit, yaitu batu bara yang berjuta-juta tahun tertimbun di dalam tanah sehingga menjadi keras, digunakan untuk isi pensil;
intan terjadi karena karbonasi (pengarangan) yang lama sehingga gravit menjadi lebih keras (intan), digunakan sebagai pemotong kaca dan batu pualam (marmer).
c) Daerah Penghasil Batubara Di Indonesia
Tambang Batubara Ombilin. Daerah penghasil batubara yang pertama adalah Ombilin, yang terletak di Sawahlunto, Sumatra Selatan.
Bukit Asam. Daerah ini adalah daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia, yang terletak di Tanjungenim, Sumatra Selatan.
Kota Baru (Pulau Laut). Kota Baru adalah daerah di indonesia penghasil batubara yang terletak di Pulau Laut, Kalimantan Selatan.
Sungai Berau. Sungai Berau adalah salah satu daerah di indonesia yang menjadi penghasil batubara, Sungai Berau terletak di Samarinda, Kalimantan timur.
Papua. Hampir berbagai bahan tambang dapat di temukan di Papua, salah satunya adalah Batubara.
Selain ini, masih banyak lagi daerah penghasil batubara di indonesia, diantaranya Bengkulu, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.
4. Panas Bumi (Geothermal)
Panas bumi (geothermal) adalah sumber daya energi atau tenaga berupa semburan uap di permukaan bumi yang berasal dari panas di dalam bumi. Semburan uap tersebut dihubungkan dengan turbin pembangkit listrik dan dinamo sehingga menimbulkan listrik. Tempatnya disebut PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas). Sumber energi panas bumi (geothermal) yang sudah menghasilkan listrik adalah:
Gunung Sibayak (Sumatera Utara),
Sarulla (Sumatera Barat),
Kamojang (Jawa Barat, PLTP pertama di Indonesia sejak 1988),
Gunung Salak dan Gunung Darajat (Jawa Barat),
Dieng (Jawa Tengah),
Lahendong (Sulawesi Utara)
B. Sumber Daya Mineral
Sumber daya mineral di Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu mineral logam dan mineral bukan logam.
* Mineral Logam
1. Bijih Besi
Bijih besi adalah konsentrat pasir besi dari bijih silikat di batuan ultrabasa pada onggokan magma beku yang telah mengalami proses laterisasi (penghancuran). Di Indonesia penambangannya dengan cara tambang terbuka, yaitu pasir besi tersebut dikeruk di permukaan bumi, seperti pasir besi yang ditambang di daerah:
Pesisir selatan Cilacap (Jawa Tengah);
Cilegon (Jawa Barat);
Kotawaringin (Kalimantan Tengah);
Pegunungan Verbeek dan Longkana (Sulawesi Tengah);
Pulau Obi (Maluku).
2. Nikel
Sama halnya dengan bijih besi, nikel pun terdapat pada bijih silikat di batuan ultrabasa pada onggokan magma beku yang telah mengalami laterisasi (penghancuran). Warnanya putih mengkilat, tahan karat, tahan suhu tinggi, dan penghantar arus listrik yang baik.
Penambangan nikel terdapat di:
Pomala (Sulawesi Selatan), yaitu penambangan yang pertama di Indonesia tahun 1938 (berproduksi);
Soroako (Sulawesi Selatan);
Pulau Gel, Pulau Pakal, Pulau Obi, Tanjung Buli (Provinsi Maluku Utara);
Pulau Gag, Pegunungan Cyclops (Provinsi Papua atau Irian Jaya).
3. Timah Putih
Endapan bijih timah putih di Indonesia, terutama terdapat di alur-alur sungai purba dasar laut Dangkalan Sunda. Seperti, alur sungai purba di dasar laut di lepas pantai Pulau Bangka, Pulau Belitung, Pulau Singkep, dan Kepulauan Lingga.
Adapun penambangannya terdapat di:
Pulau Bangka dan Belitung (Provinsi Babel);
Pulau Singkep, Pulau Lingga, Pulau Kundur, Pulau Karimun, dan lapisan bawah sebuah Patahan Bangkinang (di tepi Sungai Kampar Kanan) di Provinsi Riau. Pabrik peleburannya terdapat di Muntok (Pulau Bangka).
4. Bijih Bauksit
Bauksit, pertama kali ditemukan di Perancis, di sebuah desa bernama Les Boux sehingga mineral tersebut disebut bauksit. Jenis mineral logam ini merupakan bijih bahan aluminium yang terkandung di dalam tubuh tanah sebanyak 8% dari seluruh unsur kimia yang dikandung tanah. Jika unsur-unsur kimia lainnya berkurang atau hilang maka tubuh tanah didominasi oleh unsur aluminium (Al). Pada tubuh tanah semacam inilah ditambang bauksit.
Pusat pertambangan bauksit terbesar di Indonesia ialah Pulau Bintan. Penambangan bauksit terdapat di:
Pulau Bintan, Pulau Pari, Pulau Galang Besar (Kepulauan Riau);
Singkawang (Kalimantan Barat).
5. Emas dan Perak
Emas dan perak kebanyakan terdapat bersamaan dan berasosiasi dengan logam tembaga, platina, besi, dan seng. Emas dan perak terdapat di dalam batuan andesit tua sebagai batuan induknya.
Pertambangan emas terdapat di:
Nanggroe Aceh Darussalam;
Rejang Lebong (Bengkulu);
Cikotok (Jawa Barat);
Sambas (Kalimantan Barat);
Kalimantan Tengah;
Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara);
Tembaga Pura atau Pegunungan Jaya Pura (Irian Jaya atau Papua);
Logos (Riau);
Batu Hijau di Sumbawa (NTB).
6. Tembaga
Tembaga terdapat bersamaan dan berasosiasi dengan emas dan perak. Kegunaan tembaga adalah untuk pembuatan kabel. Tembaga dicampur kuningan akan menjadi perunggu.
Pertambangan tembaga terdapat di:
Pulau Haruku, Pulau Ambon, Nusa Laut, dan Saparua (Maluku);
Tembagapura di Pegunungan Jaya Wijaya (Irian Jaya atau Papua) menghasilkan emas dan perak, ditambang pula oleh Freeport Minerals Company (kontrak kerja Indonesia dengan Amerika);
Tirtamaya (Jawa Tengah);
Sangkarapi (Sulawesi Selatan);
Batu Hijau di Sumbawa (NTB).
7. Bijih Mangan
Jenis logam ini sekitar 80% digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan baja dan perunggu.
Pertambangan mangan terdapat di:
Yogyakarta (DIY) di Kliripan;
Karangnunggal di Tasikmalaya (Jawa Barat).
* Mineral Bukan Logam
Mineral bukan logam di Indonesia cukup banyak, yaitu aspal alam, belerang, batu kapur (gamping), batu pualam, fosfat, intan, dan sirtu (pasir batu).
1. Aspal Alam
Aspal alam terbentuk dari minyak bumi yang kadar aspalnya tinggi, terjebak, dan sudah padat mengering. Ada juga aspal buatan yang dibuat dari residu (sisa pengolahan minyak bumi seperti lumpur hitam kelam). Aspal ini digunakan untuk pengeras jalan.
Pertambangannya terdapat di:
daerah Butas di Pulau Buton (Sulawesi Tenggara);
Pegunungan Kromong dan dekat Palembang (Sumatera Selatan).
2. Belerang
Endapan gas belerang setelah sublimasi biasanya membatu. Banyak terdapat di daerah gunung api yang masih aktif. Belerang berguna dalam industri kimia, seperti industri pupuk, obat-obatan, ban, kertas, cat, mesin, rayon, tekstil, dan korek api.
Endapan belerang hampir tersebar luas di Indonesia, di antaranya:
Gunung Walirang dan Pegunungan Ijen (Jawa Timur);
Gunung Dieng (Jawa Tengah);
Gunung Patuha dan Gunung Tangkuban Perahu (Jawa Barat).
3. Batu Kapur (Gamping)
Menurut sejarah geologi, batu kapur berasal dari terumbu karang, yaitu rumah binatang karang yang terbentuk di laut dangkal (bersuhu 20° C, kedalaman 0 – 200 m). Akibat tenaga dari dalam bumi (endogen) maka terangkatlah dasar laut (proses epirogenesa atau tektonik).
Cara pengolahan batu kapur adalah setelah ditambang lalu dibakar, kemudian digunakan untuk bahan bangunan, bahan campuran pembuatan semen, porselen, keramik, teraso, marmer tiruan, dan industri gelas.Tambang gips terdapat di:
Cirebon (Jawa Barat);
Rembang (Jawa Tengah);
Kalianget (Jawa Timur).
Kapur juga digunakan sebagai bahan baku industri semen, yaitu campuran batu kapur, gipsum, dan tanah liat. Pabrik semen, di antaranya terdapat di:
Indarung (Sumatera Barat);
Cibinong (Jawa Barat);
Palimanan (Cirebon, Jawa Barat);
Cilacap (Jawa Tengah);
Gresik (Jawa Timur).
4. Marmer (Batu Pualam)
Marmer (batu pualam) terjadi karena batu kapur mengalami proses metamorfosa, yaitu batu kapur yang larut oleh air hujan masuk ke dalam tanah mendapat pemanasan dari magma sehingga berubah menjadi sangat padat dan keras.
Kegunaan marmer adalah untuk lantai, bagian atas meja, pelapis dinding di kantor, atau rumah mewah. Penambangan batu pualam (marmer) terdapat di:
Lampung (Provinsi Lampung);
Banjarnegara (Jawa Tengah);
Trenggalek dan Tulungagung (Jawa Timur);
Citatah (Jawa Barat).
5. Fosfat Mineral
fosfat berasal dari kotoran burung dan kelelawar. Kelelawar kebanyakan berdiam di gua karst (kapur) maka endapan kotorannya banyak ditemukan di gua-gua karst maupun di batu-batu gamping. Kegunaan fosfat untuk pembuatan pupuk fosfat. Daerah yang telah diambil hasil fosfatnya adalah:
Gunung Kromong dan Bogor bagian Selatan (Jawa Barat);
Karangbolong, Ajibarang, dan Kayen (Jawa Tengah);
Bojonegoro (Jawa Timur).
6. Intan
Intan ada yang menyebut berlian atau intan berlian. Intan kegunaannya ada dua macam.
Proses terjadinya intan adalah sebagai berikut. Tumbuh-tumbuhan jenis pakis (galamariacea) tertimbun di dalam tanah jutaan tahun sehingga berubah menjadi veen, lalu bruinkool, steenkool, antrasit, cokes, gravit akhirnya menjadi hitam (keras sekali).
Tempat ditemukannya intan adalah di:
Sungai Kampar, Sungai Siabu, dan Bangkinang (Sumatera);
Muara Mengkiang dan Ngabang (Kalimantan Barat);
Sei Pinang, Murungraya, Purukcau, dan Kampung Sungai Gula (Kalimantan Tengah);
Simpang Empat dan Martapura (Kalimantan Selatan);
Longiram (Kalimantan Timur).
7. Pasir dan Batu (Sirtu)
Sirtu berasal dari batuan vulkanik, yaitu berupa batu lapis, batu guling di sungai, batu gali, breksi, pasir, dan tras. Sirtu digunakan untuk bahan bangunan dan pengeras jalan.
8. Yodium
Yodium adalah bahan kimia berbentuk keping berwarna hitam agak kelabu, mengkilat seperti logam. Yodium digunakan untuk bahan obat-obatan antiseptik yang dilarutkan dalam alkohol dan untuk campuran garam dapur.
9. Kaolin
Kaolin adalah mineral mengkilat (sejenis tanah liat) berwarna putih dan merupakan hasil pelapukan.Kegunaan kaolin sebagai bahan baku pembuatan cat, keramik, bahan pewarna, dan bahan campuran kosmetik.
10. Asbes
Asbes adalah mineral hasil tambang berbentuk serat. Asbes tahan terhadap asam dan panas. Setelah diolah, asbes digunakan untuk atap rumah dan eternit.
11. Mika
Mika merupakan barang tambang yang digunakan untuk melapisi barang-barang agar tampak lebih indah. Tambang mika terdapat di Donggala dan Pulau Peleng (Sulawesi Tengah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar